Minggu, 23 Februari 2014

Karena 140 Karakter Tidaklah Cukup

Berawal dari pembicaraan mengenai agama dan ilmu pengetahuan bersama 2 orang sahabat di sebuah warung yang akhirnya terus berlanjut hingga ke twitter, akhirnya gw nulis ini karena 140 karakter sangat jauh dari kata cukup untuk menjelaskan apa yang ada dipikiran gw. Well, silahkan membaca isi hati dan pikiran gw guys:)

Sebenarnya sih gw gak ingkarin kalau manusia punya jiwa, ruh, soul, atau apapun itu namanya, tapi ini beda topik sama apa yang berusaha gw sampaikan ke kalian. Apa yang gw bicarain sebenarnya hanya pengertian gw tentang artikel yang mengenai cinta dan otak itu. Kenapa gw mention kalian? Karena di obrolan kita terakhir, ada pertanyaan “kenapa kita bisa ngomong dalam hati? Sebenarnya yang terjadi bukan di dalam hati, tapi di dalam pikiran. Hati dalam hal ini adalah konotasi, bukan denotasi karena tempat dimana ‘hati’ itu berada adalah tempat dimana jantung kita berada. Nah ini gw jelasin dengan fenomena jatuh cinta dan patah hati itu. Kenapa akhirnya kita selalu bilang kita sakit hati karena sensasi yang kita rasain langsung ada di hati/dada yang  sebenarnya adalah sistem kerja jantung yang tiba-tiba berubah sebagai respon dari sistem kerja otak (kalau penjelasan biologisnya salah, mohon maaf hehe..). As simple as that actually.

Janganlah menganggap gw orang yang anti kemanusiaan, anti agama, apalagi anti tuhan karna gw hanya berusahan mencari tahu apa yang menjadi dasar dari semua hal yang wajib kita kerjakan. Gw yakin banget tuhan gak minta disembah. Apa untungnya buat Dia? Toh Dia maha segala. Disinilah tugasnya kita sebagai manusia untuk mencari tahu, untuk berpikir. Jangan lupa keunggulan kita dari makhluk lain adalah kita memiliki akal. Contoh kasus ya.. Kalau gak salah kemarin gw tanya ke kalian, kenapa kita harus shalat 5 waktu, jawabannya adalah untuk mendapat ketenangan. Jawaban itu tidak bikin gw puas karena sangat subjektif. Tidak semua orang mencapai kedamaian ketika mereka shalat dan seandainya orang tersebut mendapatkannya, ini sangat personal dan sempit –Islam adalah agama komunal yang mengatur masyarakat loh. Akhirnya gw dapat penjelasan dari seorang teman dan ini cukup memuaskan. Shalat itu mengajarkan dan melatih kita untuk tepat waktu dan tertib. Ini tidak disadari oleh banyak orang.  Sekarang gw tanya kalian yang rajin shalat, apakah masih sering terlambat? Apakah kalian selalu menepati jadwal harian yang telah kalian buat? Apakah kalian sudah tertib bermasyarakat? Kalau jawabannya tidak atau belum berarti ada yang harus dipertanyakan dari ritual shalat kalian yang telah kalian lakukan paling tidak selama 20 tahun.


Cheers:)