Berawal dari pembicaraan mengenai agama dan ilmu pengetahuan
bersama 2 orang sahabat di sebuah warung yang akhirnya terus berlanjut hingga ke
twitter, akhirnya gw nulis ini karena 140 karakter sangat jauh dari kata cukup
untuk menjelaskan apa yang ada dipikiran gw. Well, silahkan membaca isi hati
dan pikiran gw guys:)
Sebenarnya sih gw gak ingkarin kalau manusia punya jiwa,
ruh, soul, atau apapun itu namanya, tapi ini beda topik sama apa yang berusaha
gw sampaikan ke kalian. Apa yang gw bicarain sebenarnya hanya pengertian gw
tentang artikel yang mengenai cinta dan otak itu. Kenapa gw mention kalian? Karena
di obrolan kita terakhir, ada pertanyaan “kenapa kita bisa ngomong dalam hati? Sebenarnya
yang terjadi bukan di dalam hati, tapi di dalam pikiran. Hati dalam hal ini
adalah konotasi, bukan denotasi karena tempat dimana ‘hati’ itu berada adalah
tempat dimana jantung kita berada. Nah ini gw jelasin dengan fenomena jatuh
cinta dan patah hati itu. Kenapa akhirnya kita selalu bilang kita sakit hati
karena sensasi yang kita rasain langsung ada di hati/dada yang sebenarnya adalah sistem kerja jantung yang
tiba-tiba berubah sebagai respon dari sistem kerja otak (kalau penjelasan
biologisnya salah, mohon maaf hehe..). As simple as that actually.
Janganlah menganggap gw orang yang anti kemanusiaan, anti
agama, apalagi anti tuhan karna gw hanya berusahan mencari tahu apa yang
menjadi dasar dari semua hal yang wajib kita kerjakan. Gw yakin banget tuhan
gak minta disembah. Apa untungnya buat Dia? Toh Dia maha segala. Disinilah tugasnya
kita sebagai manusia untuk mencari tahu, untuk berpikir. Jangan lupa keunggulan
kita dari makhluk lain adalah kita memiliki akal. Contoh kasus ya.. Kalau gak
salah kemarin gw tanya ke kalian, kenapa kita harus shalat 5 waktu, jawabannya
adalah untuk mendapat ketenangan. Jawaban itu tidak bikin gw puas karena sangat
subjektif. Tidak semua orang mencapai kedamaian ketika mereka shalat dan
seandainya orang tersebut mendapatkannya, ini sangat personal dan sempit –Islam
adalah agama komunal yang mengatur masyarakat loh. Akhirnya gw dapat penjelasan
dari seorang teman dan ini cukup memuaskan. Shalat itu mengajarkan dan melatih
kita untuk tepat waktu dan tertib. Ini tidak disadari oleh banyak orang. Sekarang gw tanya kalian yang rajin shalat,
apakah masih sering terlambat? Apakah kalian selalu menepati jadwal harian yang
telah kalian buat? Apakah kalian sudah tertib bermasyarakat? Kalau jawabannya
tidak atau belum berarti ada yang harus dipertanyakan dari ritual shalat kalian
yang telah kalian lakukan paling tidak selama 20 tahun.
Cheers:)