Rabu, 23 Januari 2013

Apalah Arti Keyakinan Jika Kita Tidak Benar-benar Meyakini?

Diskusi mengenai agama memang selalu menarik, terutama bila dilakukan dengan orang-orang fanatik yang hanya belajar melalui doktrin. Ya, saya baru saja berbincang dengan 2 orang teman malam lalu. Tidak penting apa yang kami diskusikan tetapi diskusi tersebut membawa saya ke sebuah keputusan yang cukup besar dalam hidup saya. Saya mulai berpikir, mendeklarasikan diri sebagai seorang muslim tanpa mengetahui apa itu Islam, rasanya sangat munafik. Menjalankan sebuah ibadah tanpa mengetahui alasan, sebab-akibat, fungsi, arti, dan tentu saja benar-benar meyakininya (tidak karena keharusan), saya rasa juga sama. Apalah artinya ketika seseorang yakin bahwa perempuan wajib menutup aurat tetapi tidak juga melakukannya? Dan apalah arti keyakinan jika kita tidak benar-benar meyakini?

Saya rasa terdapat sebuah pemahaman yang keliru. Banyak orang yang meyakini bahwa seorang anak yang terlahir dari keluarga muslim, secara otomatis akan menjadi seorang muslim atau seorang anak menjadi nasrani ketika ia terlahir dari rahim seorang nasrani. Hingga saat ini, saya belum pernah mendengar seorang ahlipun --baik ahli sains maupun agama, yang mengatakan bahwa agama adalah sesuatu yang dibawa dari lahir atau bisa juga dikatakan terbawa di dalam gen. Agama, kepercayaan dan keyakinan adalah bersumber dari dalam hati. Pelajaran agama sedari kecilpun belum tentu bisa menjamin bahwa hati kita dapat menyakininya.

Memang tidak semua orang sadar bahwa pendidikan agama yang kita dapat sedari kecil merupakan dogma-dogma yang sebagian besar hanya menjelaskan permukaan belaka. Saya yakin hanya segelintir orang yang dapat menjawab pertanyaan yang saya ajukan, "Mengapa di dalam kubur, malaikat menginterogasi seorang manusia dengan Bahasa Arab, sedangkan Tuhan yang maha pintar menciptakan beribu-ribu bahasa di muka bumi ini?" Saya pun tidak mengetahui apa jawabnya. Saya baru menyadari bahwa sebuah pengertian mendalam ternyata sangat penting untuk menemukan keyakinan atas sebuah kepercayaan. Dulu, saya bersekolah di sekolah Islam selama 12 tahun, sedari SD-SMA. Saya mendapatkan sebuah pengajaran yang baik hingga saya menjadi seorang anak yang rajin menjalankan ibadah, tetapi dogma tersebut menjadi sebuah bumerang tersendiri ketika saya bertemu dengan banyak orang dengan berbagai macam pemikiran. Hal yang lebih berbahaya bukanlah bertemu dengan orang-orang yang berkeyakinan berbeda, tetapi berdiskusi dengan orang beragama sama yang menggurui dengan hal-hal konyol dan dangkal yang tidak masuk akal. Ketika saya berada dalam posisi ini, saya merasa menjadi seorang yang pintar sekaligus bodoh. Pintar karena saya dapat memutar balikan apa yang dikatakannya --karena mereka hanya memiliki pengetahuan yang dangkal, tetapi juga bodoh karena tidak mengetahui apapun untuk mematahkan ucapannya. 

Mungkin pendapat yang saya utarakan tidak benar, tetapi saya meyakini bahwa kita tidak dapat mengatakan bahwa suatu hal benar tanpa mengetahui apa yang salah. Bagaimana kita semua bisa meyakini bahwa Islam atau keyakinan apapun adalah benar jika kita tidak membandingkan dengan yang lain?

Ps: Saya merasa sedikit berdosa ketika berpikir dan mulai menulis karena hal ini sangat bertentangan dengan apa yang tertanam di dalam benak saya. Ya, saya mencoba berdamai dengan diri ini. Apalah artinya menjadi seorang penipu diri?