Kamis, 03 Oktober 2013

Dear Madam - Guess!

Hallo Madam,

Why you always scream and shout at me?
Why you really wanna kill me and wish i could disappear from your life?
It’s not fair!!
You don’t realize or maybe you’re just ignoring it. This place used to be mine!! Then you came with your arogancy, built your own castle, and told me, “Go away, Dirty!!”
I will not go anywhere, Mam, eventhough you’ve been trying to kill me hundreds time.
Now i can say, “I love dying.” Please put that glue on all over your floor and you’ll find i’m smarter than you!!


With Love,

Dirty

Rabu, 05 Juni 2013

Pencemaran Tanah Bak Surga, Karimun Jawa

Betapa cantiknya tanah bak surga, Karimun Jawa. Pantai berpasir nan perawan, terumbu karang yang menjadi rumah bagi para ikan, dan barisan pohon kelapa meneduhkan pantai yang gersang. Tidak lupa, hutan bakau dengan jalan setapak yang panjang memanjakan mata dan pikiran, tetapi semua itu tercemar dengan umpatan para turis yang merasa kesulitan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa transportasi menuju dan kembali dari Karimun Jawa sangat sulit didapat. Jadwal kapal yang tidak setiap hari ada dan tidak menentu menjadi kendala utama bagi para turis yang ingin merapat. Saya dan beberapa teman harus menunda keberangkatan selama 2 hari. Begitu juga dengan jadwal kepulangan yang harus ditunda sehari. Selain itu, kami juga merasa kesulitan untuk mencari penginapan yang layak karena kami berkunjung di hari libur panjang. Penginapan layak yang saya maksud adalah penginapan seperti hotel, bukan rumah warga yang disewakan. Belum lagi listrik yang hanya tersedia di waktu matahari tak bercahaya. Ketiga permasalahan tersebutlah yang menjadi umpatan beberapa orang turis yang datang. Bahkan keindahan laut biru bercahaya, kejernihan air yang menggoda dan makhluk-makhluk di dalam air nan berwibawa tidak dapat meredam umpatan kekesalan yang meluncur dari bibir-bibir manis para turis.

Menapaki tanah bak surga, Karimun Jawa merupakan sebuah anugerah yang tak ternilai harganya. Seketika mata disambut oleh jernihnya air laut di bawah pelabuhan, wangi samudra yang menyejukan dan matahari tropis yang menghangatkan. Mata saya masih terpaku pada air jernih yang tidak malu untuk menunjukkan harta karun di dalamnya. Pasir putih berkilau seperti kanvas yang dilukis berbagai warna ikan, terumbu karang dan dibingkai oleh si hitam berduri yang menakutkan. Landak laut adalah salah satu makhluk menakutkan yang pernah saya temui di dunia ini, tetapi tanpanya, kanvas indah ciptaan tuhan tidaklah berbingkai.

Ketika malam menjelang, kesulitan lainnya menghampiri dan lukisan berbingkai pun terlupakan. Kesulitan untuk mencari warung makan demi mengenyangkan perut-perut turis yang tidak terbiasa menahan lapar. Satu, dua warung yang kami lewati telah tertutup pintunya, warung ketiga yang lampunya masih menyala pun ternyata tidak lagi menyediakan kudapan berharga. Tibalah kami di warung keempat. Di tempat ini kami melepas dahaga dan lapar dengan makanan yang tersisa seadanya. Umpatan kembali meluncur dari bibir-bibir manis para turis, “Tempat wisata macam apa ini? Transportasi sulit, penginapan seadanya, makanan pun tidak tersedia”.

Karimun Jawa, tanah bak surga, tercemar dengan umpatan-umpatan para turis di hari pertama saya menginjakan kaki di atasnya. Sadarkah para turis bahwa uang yang mereka bawa bukanlah segala-galanya bagi tanah bak surga, Karimun Jawa? Pernahkah terbayangkan apa jadinya Karimun Jawa jika kapal cepat dan feri setiap hari tersedia? Ribuan turis akan datang, ratusan penginapan akan dibangun dengan berbagai variasi bintang, dan kilauan pantai-pantai berpasir jernih akan tercemar. Kemudian bagaimana dengan masyarakat sekitar? Hal yang dapat dibayangkan, mereka akan berhenti melaut dan berladang demi mengejar turis yang membawa uang. Kemudian bencana akan datang. Makanan dan kebutuhan sehari-hari akan didatangkan dari tanah Jawa yang gersang. Kemudian bencana akan datang. Ketika laut biru cemerlang, berombak dan menghadang.


Betapa cantiknya tanah bak surga, Karimun Jawa. Pantai berpasir nan perawan, terumbu karang yang menejadi rumah bagi para ikan, barisan pohon kelapa meneduhkan pantai yang gersang. Tidak lupa hutan bakau dengan jalan setapak yang panjang memanjakan mata dan pikiran. Itu semua tidak akan kembali jika sudah tercemar.

Rabu, 23 Januari 2013

Apalah Arti Keyakinan Jika Kita Tidak Benar-benar Meyakini?

Diskusi mengenai agama memang selalu menarik, terutama bila dilakukan dengan orang-orang fanatik yang hanya belajar melalui doktrin. Ya, saya baru saja berbincang dengan 2 orang teman malam lalu. Tidak penting apa yang kami diskusikan tetapi diskusi tersebut membawa saya ke sebuah keputusan yang cukup besar dalam hidup saya. Saya mulai berpikir, mendeklarasikan diri sebagai seorang muslim tanpa mengetahui apa itu Islam, rasanya sangat munafik. Menjalankan sebuah ibadah tanpa mengetahui alasan, sebab-akibat, fungsi, arti, dan tentu saja benar-benar meyakininya (tidak karena keharusan), saya rasa juga sama. Apalah artinya ketika seseorang yakin bahwa perempuan wajib menutup aurat tetapi tidak juga melakukannya? Dan apalah arti keyakinan jika kita tidak benar-benar meyakini?

Saya rasa terdapat sebuah pemahaman yang keliru. Banyak orang yang meyakini bahwa seorang anak yang terlahir dari keluarga muslim, secara otomatis akan menjadi seorang muslim atau seorang anak menjadi nasrani ketika ia terlahir dari rahim seorang nasrani. Hingga saat ini, saya belum pernah mendengar seorang ahlipun --baik ahli sains maupun agama, yang mengatakan bahwa agama adalah sesuatu yang dibawa dari lahir atau bisa juga dikatakan terbawa di dalam gen. Agama, kepercayaan dan keyakinan adalah bersumber dari dalam hati. Pelajaran agama sedari kecilpun belum tentu bisa menjamin bahwa hati kita dapat menyakininya.

Memang tidak semua orang sadar bahwa pendidikan agama yang kita dapat sedari kecil merupakan dogma-dogma yang sebagian besar hanya menjelaskan permukaan belaka. Saya yakin hanya segelintir orang yang dapat menjawab pertanyaan yang saya ajukan, "Mengapa di dalam kubur, malaikat menginterogasi seorang manusia dengan Bahasa Arab, sedangkan Tuhan yang maha pintar menciptakan beribu-ribu bahasa di muka bumi ini?" Saya pun tidak mengetahui apa jawabnya. Saya baru menyadari bahwa sebuah pengertian mendalam ternyata sangat penting untuk menemukan keyakinan atas sebuah kepercayaan. Dulu, saya bersekolah di sekolah Islam selama 12 tahun, sedari SD-SMA. Saya mendapatkan sebuah pengajaran yang baik hingga saya menjadi seorang anak yang rajin menjalankan ibadah, tetapi dogma tersebut menjadi sebuah bumerang tersendiri ketika saya bertemu dengan banyak orang dengan berbagai macam pemikiran. Hal yang lebih berbahaya bukanlah bertemu dengan orang-orang yang berkeyakinan berbeda, tetapi berdiskusi dengan orang beragama sama yang menggurui dengan hal-hal konyol dan dangkal yang tidak masuk akal. Ketika saya berada dalam posisi ini, saya merasa menjadi seorang yang pintar sekaligus bodoh. Pintar karena saya dapat memutar balikan apa yang dikatakannya --karena mereka hanya memiliki pengetahuan yang dangkal, tetapi juga bodoh karena tidak mengetahui apapun untuk mematahkan ucapannya. 

Mungkin pendapat yang saya utarakan tidak benar, tetapi saya meyakini bahwa kita tidak dapat mengatakan bahwa suatu hal benar tanpa mengetahui apa yang salah. Bagaimana kita semua bisa meyakini bahwa Islam atau keyakinan apapun adalah benar jika kita tidak membandingkan dengan yang lain?

Ps: Saya merasa sedikit berdosa ketika berpikir dan mulai menulis karena hal ini sangat bertentangan dengan apa yang tertanam di dalam benak saya. Ya, saya mencoba berdamai dengan diri ini. Apalah artinya menjadi seorang penipu diri?