Betapa cantiknya tanah bak surga, Karimun Jawa.
Pantai berpasir nan perawan, terumbu karang yang menjadi rumah bagi para ikan, dan
barisan pohon kelapa meneduhkan pantai yang gersang. Tidak lupa, hutan bakau
dengan jalan setapak yang panjang memanjakan mata dan pikiran, tetapi semua itu
tercemar dengan umpatan para turis yang merasa kesulitan.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa transportasi menuju
dan kembali dari Karimun Jawa sangat sulit didapat. Jadwal kapal yang tidak
setiap hari ada dan tidak menentu menjadi kendala utama bagi para turis yang
ingin merapat. Saya dan beberapa teman harus menunda keberangkatan selama 2
hari. Begitu juga dengan jadwal kepulangan yang harus ditunda sehari. Selain
itu, kami juga merasa kesulitan untuk mencari penginapan yang layak karena kami
berkunjung di hari libur panjang. Penginapan layak yang saya maksud adalah
penginapan seperti hotel, bukan rumah warga yang disewakan. Belum lagi listrik
yang hanya tersedia di waktu matahari tak bercahaya. Ketiga permasalahan
tersebutlah yang menjadi umpatan beberapa orang turis yang datang. Bahkan keindahan
laut biru bercahaya, kejernihan air yang menggoda dan makhluk-makhluk di dalam
air nan berwibawa tidak dapat meredam umpatan kekesalan yang meluncur dari
bibir-bibir manis para turis.
Menapaki tanah bak surga, Karimun Jawa merupakan
sebuah anugerah yang tak ternilai harganya. Seketika mata disambut oleh
jernihnya air laut di bawah pelabuhan, wangi samudra yang menyejukan dan
matahari tropis yang menghangatkan. Mata saya masih terpaku pada air jernih
yang tidak malu untuk menunjukkan harta karun di dalamnya. Pasir putih berkilau
seperti kanvas yang dilukis berbagai warna ikan, terumbu karang dan dibingkai
oleh si hitam berduri yang menakutkan. Landak laut adalah salah satu makhluk
menakutkan yang pernah saya temui di dunia ini, tetapi tanpanya, kanvas indah
ciptaan tuhan tidaklah berbingkai.
Ketika malam menjelang, kesulitan lainnya menghampiri
dan lukisan berbingkai pun terlupakan. Kesulitan untuk mencari warung makan
demi mengenyangkan perut-perut turis yang tidak terbiasa menahan lapar. Satu,
dua warung yang kami lewati telah tertutup pintunya, warung ketiga yang
lampunya masih menyala pun ternyata tidak lagi menyediakan kudapan berharga.
Tibalah kami di warung keempat. Di tempat ini kami melepas dahaga dan lapar
dengan makanan yang tersisa seadanya. Umpatan kembali meluncur dari bibir-bibir
manis para turis, “Tempat wisata macam apa ini? Transportasi sulit, penginapan
seadanya, makanan pun tidak tersedia”.
Karimun Jawa, tanah bak surga, tercemar dengan
umpatan-umpatan para turis di hari pertama saya menginjakan kaki di atasnya.
Sadarkah para turis bahwa uang yang mereka bawa bukanlah segala-galanya bagi
tanah bak surga, Karimun Jawa? Pernahkah terbayangkan apa jadinya Karimun Jawa
jika kapal cepat dan feri setiap hari tersedia? Ribuan turis akan datang,
ratusan penginapan akan dibangun dengan berbagai variasi bintang, dan kilauan
pantai-pantai berpasir jernih akan tercemar. Kemudian bagaimana dengan
masyarakat sekitar? Hal yang dapat dibayangkan, mereka akan berhenti melaut dan
berladang demi mengejar turis yang membawa uang. Kemudian bencana akan datang.
Makanan dan kebutuhan sehari-hari akan didatangkan dari tanah Jawa yang
gersang. Kemudian bencana akan datang. Ketika laut biru cemerlang, berombak dan
menghadang.
Betapa cantiknya tanah bak surga, Karimun Jawa.
Pantai berpasir nan perawan, terumbu karang yang menejadi rumah bagi para ikan,
barisan pohon kelapa meneduhkan pantai yang gersang. Tidak lupa hutan bakau
dengan jalan setapak yang panjang memanjakan mata dan pikiran. Itu semua tidak
akan kembali jika sudah tercemar.