Sabtu, 10 November 2012

Apakah Kepribadian Luhur Bangsa Indonesia Hanya Sebuah Mitos?

Masyarakat yang ramah dan toleransi adalah 2 kata yang tertanam di benak saya untuk menggambarkan kepribadian masyarakat Indonesia. Paling tidak, kedua hal tersebutlah yang selalu ditanamkan kepada murid-murid sekolah dasar. Sebenarnya apa sih yang disebut dengan ramah dan toleransi? apakah kedua konsep tersebut dapat dipahami oleh anak-anak seusia sekolah dasar?

Sesungguhnya, ketika saya mengingat masa kecil saya, saya pernah menanyakan hal ini kepada ibunda tercinta. Saya menanyakan arti dari kata 'ramah' yang selalu disebutkan sebagai kepribadian masyarakat Indonesia. Saat itu beliau menjawab dengan sangat sederhana, "Kalau ada orang bule dateng ke Indonesia, mereka akan sangat mudah untuk bertanya alamat kepada siapa saja yang mereka temui di jalan". Jawaban yang diberikan ibunda sangat mudah untuk dimengerti dan saya merasa puas ketika mendengar hal ini. Begitu juga dengan toleransi, penjelasan yang sangat logis saya dapatkan dari ibunda, guru dan juga buku-buku. Toleransi digambarkan dengan kehidupan tentram diantara masyarakat yang berbeda suku dan agama. Bagi saya ketika masih duduk di sekolah dasar, hal tersebut dapat dipahami dan diterima dengan sangat mudah, tetapi ketika saya beranjak dewasa dan mulai melihat realita yang ada, saya merasa bahwa kata 'ramah' dan 'toleransi' sangat pelik dan tidak sederhana.

Saya menuliskan ini bukan tanpa alasan. Saya menuliskan ini sebagai ungkapan keperihatinan dan juga keputus-asaan terhadap kondisi yang saya lihat di kota kelahiran saya. Mungkin memang tidak selayaknya saya men-generalisasi apa yang terjadi di Jakarta untuk seluruh wilayah di Indonesia, tetapi paling tidak keadaan ini banyak terjadi di wilayah-wilayah yang telah banyak memanfaatkan kendaraan bermotor dalam keseharian penduduknya.

Contoh nyata untuk mengkritisi kepribadian luhur bangsa adalah keadaan lalu lintas Jakarta. Sejauh ingatan saya tidah ada kata ramah dan toleransi, apalagi saling menghormati di jalan raya. Sebagian besar pengendara menjadi sangat agresif dan egois ketika berada dibelakang kemudi. Kemudi menjadi sebuah sihir jahat yang dapat menguasai pengemudi yang tidak siap atas keadaan yang ada. Terkadang, pejalan kaki pun mengalami keadaan yang sama di jalan raya, walau tanpa kemudi di hadapannya.

Sebut saja lampu lalulintas. Semua orang mengetahui apa arti warna merah, kuning dan hijau, tetapi sering kita lihat kendaraan yang sama sekali tidak mematuhi rambu tersebut hanya karena ingin segera tiba di tempat tujuan atau malas menunggu lama. Apakah kejadian itu mencerimankan toleransi kepada pengguna jalan lainnya? Atau ketika jalanan macet dan para pengendara mencoba untuk 'menyalip'. Sering sekali terdengar makian bahkan teriakan kata-kata kotor hanya karena kendaraannya 'disalip'. Lalu dimana toleransi dan keramah-tamahannya?