I worked on a textile in Muntok, Indonesia which is
no longer exist (no needed anymore). At some point I asked myself, why
preserving archaic stuff is important for me and for some other people. Without
the society, those are only dead materials. Then I attended a panel discussion
which was held by Deutsche Bank called Anthropology and Contemporary Art. This
discussion brought me to a bigger issue, why ethnological museums, the place to
keep those kind of materials are so important for westerner? Those museums are
dying nowadays, but most of the western authority and experts believe it is
worth to be maintained. They choose to keep the materials, instead of give them
back to the society. As all people know most of the archaic materials are from
the ‘exotic’ places, Africa, Indonesia, Papua New Guinea, etc. Thus is this
thought a kind of continuity of colonialism? To show we and they are different,
to show they are ‘exotic’, to show we were there, to show we had enough power
to grab the stuff and also we still have big power to ‘preserve’ them in our
museum. For an additional information, only one museums (which I see by myself)
which have 2-3 textiles, I mentioned before, in Palembang and there is a small
shop which has some collection in Pangkal Pinang, Indonesia. In Muntok itself,
only one person who still have it and only people, who concern about culture
and tradition, still know this textile existed. And how about the society? Non
of them knows it. However Netherlands have various kind of motif from this
textile in their ethnological museum. Pathetic!
Saya meneliti tentang kain tradisional dari
Muntok, Bangka Barat yang sudah punah (tidak lagi dibutuhkan). Hingga suatu
saat saya bertanya pada diri saya, mengapa melindungi barang-barang kuno
penting bagi saya dan bagi sebagian orang. Tanpa masyarakat pendukungnya, barang-barang
tersebut hanyalah benda mati. Kemudian saya menghadiri sebuah diskusi panel
yang diadakan oleh Deutsche Bank, berjudul Antropologi dan Seni Kontemporer.
Diskusi ini membawa saya ke sebuah isu yang lebih besar, mengapa museum
etnologi, tempat menyimpan barang-barang kuno, sangat penting bagi masyarakat
barat? Museum tersebut sudah tidak laku lagi, tetapi pemerintah dan beberapa
ahli masih merasa bahwa museum-museum yang ada layak dipertahankan. Alih-alih
mengembalikan barang kuno yang ada kepada masyarkat pendukungnya, mereka malah
memilih untuk menyimpannya. Seperti yang kita ketahui, sebagian besar barang
kuno yang berada di museum etnologi berasal dari tempat-tempat ‘eksotis’,
Afrika, Indonesia, Papua Nugini, dsb. Jadi apakah pemikiran seperti ini adalah
sebuah kuntinuitas dari penjajahan? Untuk memperlihatkan bahwa kami dan mereka
berbeda, untuk memperlihatkan bahwa
mereka ‘eksotis’, untuk memperlihatkan bahwa kami pernah berada dan
berkuasa disana, untuk memperlihatkan bahwa dulu kami memiliki kekuatan cukup
besar untuk merebut barang-barang tersebut dan saat ini masih memiliki kekuatan
besar untuk ‘melindungi’nya di museum kami. Untuk informasi tambahan, hanya
terdapat sebuah museum di Palembang yang memiliki kain-kain yang saya sebutkan
sebelumnya dan sebuah toko kecil yang memiliki beberapa koleksi kain kuno di
Pangkal Pinang. Muntok itu sendiri? Hanya terdapat sebuah kain yang dimiliki
secara pribadi. Bagaimana dengan masyarakatnya? Hanya orang-orang yang memiliki
perhatian lebih terhadap budaya dan tradisi yang mengetahui bahwa di masa lalu
nenek moyang mereka pernah memiliki kain ini. Di sisi lain, Belanda memiliki
cukup banyak jenis kain dari Muntok yang disimpan di museum etnologi mereka.
Menyedihkan!