Senin, 28 September 2015

Archeic Materials and Colonialism / Benda Kuno dan Kolonialisme

I worked on a textile in Muntok, Indonesia which is no longer exist (no needed anymore). At some point I asked myself, why preserving archaic stuff is important for me and for some other people. Without the society, those are only dead materials. Then I attended a panel discussion which was held by Deutsche Bank called Anthropology and Contemporary Art. This discussion brought me to a bigger issue, why ethnological museums, the place to keep those kind of materials are so important for westerner? Those museums are dying nowadays, but most of the western authority and experts believe it is worth to be maintained. They choose to keep the materials, instead of give them back to the society. As all people know most of the archaic materials are from the ‘exotic’ places, Africa, Indonesia, Papua New Guinea, etc. Thus is this thought a kind of continuity of colonialism? To show we and they are different, to show they are ‘exotic’, to show we were there, to show we had enough power to grab the stuff and also we still have big power to ‘preserve’ them in our museum. For an additional information, only one museums (which I see by myself) which have 2-3 textiles, I mentioned before, in Palembang and there is a small shop which has some collection in Pangkal Pinang, Indonesia. In Muntok itself, only one person who still have it and only people, who concern about culture and tradition, still know this textile existed. And how about the society? Non of them knows it. However Netherlands have various kind of motif from this textile in their ethnological museum. Pathetic!


Saya meneliti tentang kain tradisional dari Muntok, Bangka Barat yang sudah punah (tidak lagi dibutuhkan). Hingga suatu saat saya bertanya pada diri saya, mengapa melindungi barang-barang kuno penting bagi saya dan bagi sebagian orang. Tanpa masyarakat pendukungnya, barang-barang tersebut hanyalah benda mati. Kemudian saya menghadiri sebuah diskusi panel yang diadakan oleh Deutsche Bank, berjudul Antropologi dan Seni Kontemporer. Diskusi ini membawa saya ke sebuah isu yang lebih besar, mengapa museum etnologi, tempat menyimpan barang-barang kuno, sangat penting bagi masyarakat barat? Museum tersebut sudah tidak laku lagi, tetapi pemerintah dan beberapa ahli masih merasa bahwa museum-museum yang ada layak dipertahankan. Alih-alih mengembalikan barang kuno yang ada kepada masyarkat pendukungnya, mereka malah memilih untuk menyimpannya. Seperti yang kita ketahui, sebagian besar barang kuno yang berada di museum etnologi berasal dari tempat-tempat ‘eksotis’, Afrika, Indonesia, Papua Nugini, dsb. Jadi apakah pemikiran seperti ini adalah sebuah kuntinuitas dari penjajahan? Untuk memperlihatkan bahwa kami dan mereka berbeda, untuk memperlihatkan bahwa  mereka ‘eksotis’, untuk memperlihatkan bahwa kami pernah berada dan berkuasa disana, untuk memperlihatkan bahwa dulu kami memiliki kekuatan cukup besar untuk merebut barang-barang tersebut dan saat ini masih memiliki kekuatan besar untuk ‘melindungi’nya di museum kami. Untuk informasi tambahan, hanya terdapat sebuah museum di Palembang yang memiliki kain-kain yang saya sebutkan sebelumnya dan sebuah toko kecil yang memiliki beberapa koleksi kain kuno di Pangkal Pinang. Muntok itu sendiri? Hanya terdapat sebuah kain yang dimiliki secara pribadi. Bagaimana dengan masyarakatnya? Hanya orang-orang yang memiliki perhatian lebih terhadap budaya dan tradisi yang mengetahui bahwa di masa lalu nenek moyang mereka pernah memiliki kain ini. Di sisi lain, Belanda memiliki cukup banyak jenis kain dari Muntok yang disimpan di museum etnologi mereka. Menyedihkan!

Minggu, 23 Februari 2014

Karena 140 Karakter Tidaklah Cukup

Berawal dari pembicaraan mengenai agama dan ilmu pengetahuan bersama 2 orang sahabat di sebuah warung yang akhirnya terus berlanjut hingga ke twitter, akhirnya gw nulis ini karena 140 karakter sangat jauh dari kata cukup untuk menjelaskan apa yang ada dipikiran gw. Well, silahkan membaca isi hati dan pikiran gw guys:)

Sebenarnya sih gw gak ingkarin kalau manusia punya jiwa, ruh, soul, atau apapun itu namanya, tapi ini beda topik sama apa yang berusaha gw sampaikan ke kalian. Apa yang gw bicarain sebenarnya hanya pengertian gw tentang artikel yang mengenai cinta dan otak itu. Kenapa gw mention kalian? Karena di obrolan kita terakhir, ada pertanyaan “kenapa kita bisa ngomong dalam hati? Sebenarnya yang terjadi bukan di dalam hati, tapi di dalam pikiran. Hati dalam hal ini adalah konotasi, bukan denotasi karena tempat dimana ‘hati’ itu berada adalah tempat dimana jantung kita berada. Nah ini gw jelasin dengan fenomena jatuh cinta dan patah hati itu. Kenapa akhirnya kita selalu bilang kita sakit hati karena sensasi yang kita rasain langsung ada di hati/dada yang  sebenarnya adalah sistem kerja jantung yang tiba-tiba berubah sebagai respon dari sistem kerja otak (kalau penjelasan biologisnya salah, mohon maaf hehe..). As simple as that actually.

Janganlah menganggap gw orang yang anti kemanusiaan, anti agama, apalagi anti tuhan karna gw hanya berusahan mencari tahu apa yang menjadi dasar dari semua hal yang wajib kita kerjakan. Gw yakin banget tuhan gak minta disembah. Apa untungnya buat Dia? Toh Dia maha segala. Disinilah tugasnya kita sebagai manusia untuk mencari tahu, untuk berpikir. Jangan lupa keunggulan kita dari makhluk lain adalah kita memiliki akal. Contoh kasus ya.. Kalau gak salah kemarin gw tanya ke kalian, kenapa kita harus shalat 5 waktu, jawabannya adalah untuk mendapat ketenangan. Jawaban itu tidak bikin gw puas karena sangat subjektif. Tidak semua orang mencapai kedamaian ketika mereka shalat dan seandainya orang tersebut mendapatkannya, ini sangat personal dan sempit –Islam adalah agama komunal yang mengatur masyarakat loh. Akhirnya gw dapat penjelasan dari seorang teman dan ini cukup memuaskan. Shalat itu mengajarkan dan melatih kita untuk tepat waktu dan tertib. Ini tidak disadari oleh banyak orang.  Sekarang gw tanya kalian yang rajin shalat, apakah masih sering terlambat? Apakah kalian selalu menepati jadwal harian yang telah kalian buat? Apakah kalian sudah tertib bermasyarakat? Kalau jawabannya tidak atau belum berarti ada yang harus dipertanyakan dari ritual shalat kalian yang telah kalian lakukan paling tidak selama 20 tahun.


Cheers:)

Kamis, 03 Oktober 2013

Dear Madam - Guess!

Hallo Madam,

Why you always scream and shout at me?
Why you really wanna kill me and wish i could disappear from your life?
It’s not fair!!
You don’t realize or maybe you’re just ignoring it. This place used to be mine!! Then you came with your arogancy, built your own castle, and told me, “Go away, Dirty!!”
I will not go anywhere, Mam, eventhough you’ve been trying to kill me hundreds time.
Now i can say, “I love dying.” Please put that glue on all over your floor and you’ll find i’m smarter than you!!


With Love,

Dirty

Rabu, 05 Juni 2013

Pencemaran Tanah Bak Surga, Karimun Jawa

Betapa cantiknya tanah bak surga, Karimun Jawa. Pantai berpasir nan perawan, terumbu karang yang menjadi rumah bagi para ikan, dan barisan pohon kelapa meneduhkan pantai yang gersang. Tidak lupa, hutan bakau dengan jalan setapak yang panjang memanjakan mata dan pikiran, tetapi semua itu tercemar dengan umpatan para turis yang merasa kesulitan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa transportasi menuju dan kembali dari Karimun Jawa sangat sulit didapat. Jadwal kapal yang tidak setiap hari ada dan tidak menentu menjadi kendala utama bagi para turis yang ingin merapat. Saya dan beberapa teman harus menunda keberangkatan selama 2 hari. Begitu juga dengan jadwal kepulangan yang harus ditunda sehari. Selain itu, kami juga merasa kesulitan untuk mencari penginapan yang layak karena kami berkunjung di hari libur panjang. Penginapan layak yang saya maksud adalah penginapan seperti hotel, bukan rumah warga yang disewakan. Belum lagi listrik yang hanya tersedia di waktu matahari tak bercahaya. Ketiga permasalahan tersebutlah yang menjadi umpatan beberapa orang turis yang datang. Bahkan keindahan laut biru bercahaya, kejernihan air yang menggoda dan makhluk-makhluk di dalam air nan berwibawa tidak dapat meredam umpatan kekesalan yang meluncur dari bibir-bibir manis para turis.

Menapaki tanah bak surga, Karimun Jawa merupakan sebuah anugerah yang tak ternilai harganya. Seketika mata disambut oleh jernihnya air laut di bawah pelabuhan, wangi samudra yang menyejukan dan matahari tropis yang menghangatkan. Mata saya masih terpaku pada air jernih yang tidak malu untuk menunjukkan harta karun di dalamnya. Pasir putih berkilau seperti kanvas yang dilukis berbagai warna ikan, terumbu karang dan dibingkai oleh si hitam berduri yang menakutkan. Landak laut adalah salah satu makhluk menakutkan yang pernah saya temui di dunia ini, tetapi tanpanya, kanvas indah ciptaan tuhan tidaklah berbingkai.

Ketika malam menjelang, kesulitan lainnya menghampiri dan lukisan berbingkai pun terlupakan. Kesulitan untuk mencari warung makan demi mengenyangkan perut-perut turis yang tidak terbiasa menahan lapar. Satu, dua warung yang kami lewati telah tertutup pintunya, warung ketiga yang lampunya masih menyala pun ternyata tidak lagi menyediakan kudapan berharga. Tibalah kami di warung keempat. Di tempat ini kami melepas dahaga dan lapar dengan makanan yang tersisa seadanya. Umpatan kembali meluncur dari bibir-bibir manis para turis, “Tempat wisata macam apa ini? Transportasi sulit, penginapan seadanya, makanan pun tidak tersedia”.

Karimun Jawa, tanah bak surga, tercemar dengan umpatan-umpatan para turis di hari pertama saya menginjakan kaki di atasnya. Sadarkah para turis bahwa uang yang mereka bawa bukanlah segala-galanya bagi tanah bak surga, Karimun Jawa? Pernahkah terbayangkan apa jadinya Karimun Jawa jika kapal cepat dan feri setiap hari tersedia? Ribuan turis akan datang, ratusan penginapan akan dibangun dengan berbagai variasi bintang, dan kilauan pantai-pantai berpasir jernih akan tercemar. Kemudian bagaimana dengan masyarakat sekitar? Hal yang dapat dibayangkan, mereka akan berhenti melaut dan berladang demi mengejar turis yang membawa uang. Kemudian bencana akan datang. Makanan dan kebutuhan sehari-hari akan didatangkan dari tanah Jawa yang gersang. Kemudian bencana akan datang. Ketika laut biru cemerlang, berombak dan menghadang.


Betapa cantiknya tanah bak surga, Karimun Jawa. Pantai berpasir nan perawan, terumbu karang yang menejadi rumah bagi para ikan, barisan pohon kelapa meneduhkan pantai yang gersang. Tidak lupa hutan bakau dengan jalan setapak yang panjang memanjakan mata dan pikiran. Itu semua tidak akan kembali jika sudah tercemar.

Rabu, 23 Januari 2013

Apalah Arti Keyakinan Jika Kita Tidak Benar-benar Meyakini?

Diskusi mengenai agama memang selalu menarik, terutama bila dilakukan dengan orang-orang fanatik yang hanya belajar melalui doktrin. Ya, saya baru saja berbincang dengan 2 orang teman malam lalu. Tidak penting apa yang kami diskusikan tetapi diskusi tersebut membawa saya ke sebuah keputusan yang cukup besar dalam hidup saya. Saya mulai berpikir, mendeklarasikan diri sebagai seorang muslim tanpa mengetahui apa itu Islam, rasanya sangat munafik. Menjalankan sebuah ibadah tanpa mengetahui alasan, sebab-akibat, fungsi, arti, dan tentu saja benar-benar meyakininya (tidak karena keharusan), saya rasa juga sama. Apalah artinya ketika seseorang yakin bahwa perempuan wajib menutup aurat tetapi tidak juga melakukannya? Dan apalah arti keyakinan jika kita tidak benar-benar meyakini?

Saya rasa terdapat sebuah pemahaman yang keliru. Banyak orang yang meyakini bahwa seorang anak yang terlahir dari keluarga muslim, secara otomatis akan menjadi seorang muslim atau seorang anak menjadi nasrani ketika ia terlahir dari rahim seorang nasrani. Hingga saat ini, saya belum pernah mendengar seorang ahlipun --baik ahli sains maupun agama, yang mengatakan bahwa agama adalah sesuatu yang dibawa dari lahir atau bisa juga dikatakan terbawa di dalam gen. Agama, kepercayaan dan keyakinan adalah bersumber dari dalam hati. Pelajaran agama sedari kecilpun belum tentu bisa menjamin bahwa hati kita dapat menyakininya.

Memang tidak semua orang sadar bahwa pendidikan agama yang kita dapat sedari kecil merupakan dogma-dogma yang sebagian besar hanya menjelaskan permukaan belaka. Saya yakin hanya segelintir orang yang dapat menjawab pertanyaan yang saya ajukan, "Mengapa di dalam kubur, malaikat menginterogasi seorang manusia dengan Bahasa Arab, sedangkan Tuhan yang maha pintar menciptakan beribu-ribu bahasa di muka bumi ini?" Saya pun tidak mengetahui apa jawabnya. Saya baru menyadari bahwa sebuah pengertian mendalam ternyata sangat penting untuk menemukan keyakinan atas sebuah kepercayaan. Dulu, saya bersekolah di sekolah Islam selama 12 tahun, sedari SD-SMA. Saya mendapatkan sebuah pengajaran yang baik hingga saya menjadi seorang anak yang rajin menjalankan ibadah, tetapi dogma tersebut menjadi sebuah bumerang tersendiri ketika saya bertemu dengan banyak orang dengan berbagai macam pemikiran. Hal yang lebih berbahaya bukanlah bertemu dengan orang-orang yang berkeyakinan berbeda, tetapi berdiskusi dengan orang beragama sama yang menggurui dengan hal-hal konyol dan dangkal yang tidak masuk akal. Ketika saya berada dalam posisi ini, saya merasa menjadi seorang yang pintar sekaligus bodoh. Pintar karena saya dapat memutar balikan apa yang dikatakannya --karena mereka hanya memiliki pengetahuan yang dangkal, tetapi juga bodoh karena tidak mengetahui apapun untuk mematahkan ucapannya. 

Mungkin pendapat yang saya utarakan tidak benar, tetapi saya meyakini bahwa kita tidak dapat mengatakan bahwa suatu hal benar tanpa mengetahui apa yang salah. Bagaimana kita semua bisa meyakini bahwa Islam atau keyakinan apapun adalah benar jika kita tidak membandingkan dengan yang lain?

Ps: Saya merasa sedikit berdosa ketika berpikir dan mulai menulis karena hal ini sangat bertentangan dengan apa yang tertanam di dalam benak saya. Ya, saya mencoba berdamai dengan diri ini. Apalah artinya menjadi seorang penipu diri?

Sabtu, 10 November 2012

Apakah Kepribadian Luhur Bangsa Indonesia Hanya Sebuah Mitos?

Masyarakat yang ramah dan toleransi adalah 2 kata yang tertanam di benak saya untuk menggambarkan kepribadian masyarakat Indonesia. Paling tidak, kedua hal tersebutlah yang selalu ditanamkan kepada murid-murid sekolah dasar. Sebenarnya apa sih yang disebut dengan ramah dan toleransi? apakah kedua konsep tersebut dapat dipahami oleh anak-anak seusia sekolah dasar?

Sesungguhnya, ketika saya mengingat masa kecil saya, saya pernah menanyakan hal ini kepada ibunda tercinta. Saya menanyakan arti dari kata 'ramah' yang selalu disebutkan sebagai kepribadian masyarakat Indonesia. Saat itu beliau menjawab dengan sangat sederhana, "Kalau ada orang bule dateng ke Indonesia, mereka akan sangat mudah untuk bertanya alamat kepada siapa saja yang mereka temui di jalan". Jawaban yang diberikan ibunda sangat mudah untuk dimengerti dan saya merasa puas ketika mendengar hal ini. Begitu juga dengan toleransi, penjelasan yang sangat logis saya dapatkan dari ibunda, guru dan juga buku-buku. Toleransi digambarkan dengan kehidupan tentram diantara masyarakat yang berbeda suku dan agama. Bagi saya ketika masih duduk di sekolah dasar, hal tersebut dapat dipahami dan diterima dengan sangat mudah, tetapi ketika saya beranjak dewasa dan mulai melihat realita yang ada, saya merasa bahwa kata 'ramah' dan 'toleransi' sangat pelik dan tidak sederhana.

Saya menuliskan ini bukan tanpa alasan. Saya menuliskan ini sebagai ungkapan keperihatinan dan juga keputus-asaan terhadap kondisi yang saya lihat di kota kelahiran saya. Mungkin memang tidak selayaknya saya men-generalisasi apa yang terjadi di Jakarta untuk seluruh wilayah di Indonesia, tetapi paling tidak keadaan ini banyak terjadi di wilayah-wilayah yang telah banyak memanfaatkan kendaraan bermotor dalam keseharian penduduknya.

Contoh nyata untuk mengkritisi kepribadian luhur bangsa adalah keadaan lalu lintas Jakarta. Sejauh ingatan saya tidah ada kata ramah dan toleransi, apalagi saling menghormati di jalan raya. Sebagian besar pengendara menjadi sangat agresif dan egois ketika berada dibelakang kemudi. Kemudi menjadi sebuah sihir jahat yang dapat menguasai pengemudi yang tidak siap atas keadaan yang ada. Terkadang, pejalan kaki pun mengalami keadaan yang sama di jalan raya, walau tanpa kemudi di hadapannya.

Sebut saja lampu lalulintas. Semua orang mengetahui apa arti warna merah, kuning dan hijau, tetapi sering kita lihat kendaraan yang sama sekali tidak mematuhi rambu tersebut hanya karena ingin segera tiba di tempat tujuan atau malas menunggu lama. Apakah kejadian itu mencerimankan toleransi kepada pengguna jalan lainnya? Atau ketika jalanan macet dan para pengendara mencoba untuk 'menyalip'. Sering sekali terdengar makian bahkan teriakan kata-kata kotor hanya karena kendaraannya 'disalip'. Lalu dimana toleransi dan keramah-tamahannya?